Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah

perbedaan bank konvensional dan bank syariah di Indonesia

Saat ini dunia perbankan telah berkembang begitu luas, dimana dahulu mungkin kita hanya mengenal bank-bank konvensional yang mengedepankan sistem bunga bagi penerima kredit ataupun nasabah tabungan. Namun seiring waktu telah muncul jenis bank baru yang digadang-gadang akan menggeser posisi bank konvensional. Bank yang dimaksud adalah Bank Syariah.

Bank Syariah adalah perbankan yang menganut prinsip sesuai ajaran syariah, perbedaan mendasar antara Bank Syariah dan Bank Konvensional adalah sistem transaksi dan sistem pengenaan bunga atas tabungan atau kredit (pinjaman).

Namun pernahkah anda berfikir lebih jauh sisi apa saja yang menjadi pembeda antara kedua bank tersebut? Berikut ini adalah macam-macam perbedaan dilihat dariberbagai sudut fungsi dan tugas perbankan itu sendiri.

Prinsip Dasar

Terdapat 3 (tiga) prinsip dasar yang membedakan kedua jenis bank tersebut, pertama adalah pandangan akan uang. Bagi  bank konvensional,uang adalah barang komoditas yang dapat diperjual belikan selama ada penjual dan pembeli, sedangkan bagi bank syariah uang adalah alat tukar sehingga tidak dapat diperjual belikan namun dapat ditukar dalam bentuk apapun sesuai dengan kebutuhan.

Prinsip kedua adalah tentang nilai. Bagi bank konvensional memiliki prinsip dasar bebas nilai, sedangkan bagi bank syariah mereka menganut prinsip syariah sehingga memandang tidak ada pembebasan nilai.

Ketiga adalah tentang bunga bank baik untuk simpanan atau kredit. Bank konvensional mengenakan atau memberikan bunga kepada debitur atau pemilik dana sehingga uang tersebut bertambah besar, dimana besaran bunga ditentukan secara sepihak oleh pihak bank dan nasabah tidak dapat mengubah kebijakan tersebut kecuali ada kesepakatan antara keduanya.

Sedangkan bagi bank syariah, ia tidak mengenal pengenaan atau pemberlakuan bunga, bunga bank dianggap sebagai riba yang berstatus hukum haram. Untuk itu bank syariah hanya mengenal bagi hasil baik itu untuk simpanan atau pinjaman.

Fungsi dan Kegiatan

Perbedaan utama untuk fungsi kegiatan dari kedua jenis bank adalah jika bank konvensional atau umum hanya berfungsi sebagai penyedia jasa keuangan dan lembaga intermediasi, sedangkan bank syariah memiliki fungsi yang lebih luas, yakni menjadi manajer investasi, berfungsi sebagaimana bank konvensional dan berbagai layanan keuangan lainnya.

Risiko

Bagi bank konvensional urusan resiko adalah urusan masing-masing atau "nafsi-nafsi", dimana resiko bagi nasabah menjadi resiko nasabah itu sendiri dan pihak bank tidak akan berurusan dengan itu, begitu juga sebaliknya.

Sedangkan untuk bank syariah, mereka menganut faham "ringan sama dijinjing, berat sama dipikul", itulah mengapa baik dalam tabungan atau pinjaman terdapat akad bagi hasil, yang mana resiko dan keuntungan ditanggung dan dinikmati bersama sesuai porsi masing-masing.

Perolehan Keuntungan

Bagi bank syariah, perolehan keuntungan mereka berasal dari bagi hasil dengan nasabah dan pengenaan biaya administrasi sebagaimana bank umum. Sedangkan bank umum cara perolehan keuntungannya adalah dari pengenaan biaya administrasi dan pengenaan bunga atas kredit bank.

Struktur Pengawas

Di bank umum atau konvensional, pengawasnya hanya terdiri atas komisaris, sedangkan pada bank syariah terdapat dewan komisaris, dewan pengawas syariah, dan dewan pengawas syariah nasional.

Proses Transaksi

Proses transaksi kedua bank tersebut sangat berbeda, dimana bank konvensionak mengikuti aturan hukum yang berlaku di Indonesia, sedangkan bank syariah mengedepankan prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan transaksinya.

Pemberian Kredit atau Pinjaman

Apabila nasabah dari bank syariah mengalami kesulitan membayar pinjaman pada bulan-bulan tertentu maka kerugian yang timbul atas kejadian tersebut ditanggung bersama-sama antara pihak bank dan para penyimpan dana di bank tersebut, istilahnya adalah "tanggung renteng". Sedangkan di bank konvensional tidak berlaku demikian, dimana jika debitur mengalami kesulitan bayar maka akan dikenakan biaya pinalti dan beberapa biaya tambahan lainnya.

Sumber Likuiditas Jangka Pendek

Sumber likuiditas kedua bank tersebut sama saja yakni berasal dari bank sentral yaitu Bank Indonesia (BI) dan dari pasar uang. Hanya saja untuk dari pasar uang, bank syariah hanya akan mengambil dari pasar uang yang menerapkan prinsip-prinsip syariah, sedangkan bank konvensional bebas dari pasar uang jenis apapun.

Sistem Bunga atau Bagi Hasil

Bunga bank tidak diakui dan tidak diterapkan dalam sistem bank syariah karena disebut sebagai riba yang berkkekuatan hukum haram, sehingga bank syariah menggunakan prinsip bagi hasil, dimana jika periode tertentu pihak bank mendapatkan hasil yang besar maka para investor dan pemilik dana (nasabah) akan mendapatkan hasil yang besar, begitu juga sebaliknya.

Berbeda dengan bank konvensional yang menerapkan suku bunga dengan besaran bunga yang ditetapkan oleh bank itu sendiri dengan mengacu pada keputusan Suku Bunga Bank Indonesia (BI).


Mana Yang Paling Baik

Kedua bank memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing, sehingga anda hanya perlu menyesuaikan dengan kebutuhan anda saat ini. Jika anda tidak masalah menggunakan jasa jenis bank apapun, maka anda bisa memilih salah satu dari keduanya secara bebas. Namun jika anda mendahulukan prinsip syariah, maka bank syariah adalah yang paling tepat untuk anda.